Mengenal Buddha
Sakyamuni Buddha PDF Print E-mail
Monday, 02 August 2010 16:23

 

Kronologi Pembabaran Dharma Oleh Buddha

Pangeran Siddhartha mencapai Pencerahan dan menjadi Buddha pada umur tiga puluh lima tahun. Sejak itu, Ia mengajarkan Dharma tanpa kenal lelah selama empat puluh lima tahun. Selama dua puluh tahun pertama masa pembabaran Dharma ini, Yang Terberkahi melewatkan masa berdiam musim hujan di berbagai tempat. Namun, selama dua puluh lima tahun terakhir, Ia melewatkan sebagian besar masa berdiam-Nya di Savatthi.

Berikut adalah susunan kronologi pembabaran Dharma oleh Buddha, tempat Ia melewatkan musim hujan, dan peristiwa-peristiwa menonjol yang terjadi pada setiap tahunnya.

Tahun pertama (588 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Migadaya (Taman Rusa), Isipatana, di dekat Baranasi.

Peristiwa utama: Buddha membabarkan sutta pertama Dhammacakkappavattana Sutta, Anattalakkhana Sutta, dan Adittapariyaya Sutta; mengalihyakinkan kelima petapa (Pancavaggiya); mendirikan Persamuhan (Samgha) Bhikkhu dan Tiga Pernaungan (Tisarana); mengalihyakinkan Yasa dan kelima puluh empat sahabatnya; mengutus para misionari pertama; mengalihyakinkan ketiga puluh pangeran Bhaddavaggiya; mengalihyakinkan ketiga Kassapa bersaudara beserta seribu orang pengikut mereka.

Tahun kedua-keempat (587-585 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Veluvanarama (Wihara Hutan Bambu), di dekat Rajagaha.

Peristiwa utama: Buddha memenuhi janji kepada Raja Bimbisara; menerima Wihara Veluvana sebagai pemberian dana; menyabdakan Ovada Patimokkha; menunjuk Sariputta dan Moggallana sebagai siswa bhikkhu utama (agga savaka); mengunjungi Kapilavatthu; mempertunjukkan mukjizat ganda (yamaka patihariya); menahbiskan Pangeran Rahula dan Pangeran Nanda; mengukuhkan Raja Suddhodana, Ratu Mahapajapati Gotami, serta Yasodhara ke dalam arus kesucian; menahbiskan keenam pangeran Sakya; bertemu dengan Anathapindika; menerima Wihara Jetavana sebagai pemberian dana; bertemu dengan Raja Pasenadi Kosala; mendamaikan sengketa antara suku Sakya dan Koliya; membabarkan Mahasamaya Sutta.

Tahun kelima (584 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Kutagarasala (Balairung Puncak), Mahavana, di dekat Vesali.

Peristiwa utama: wafatnya Raja Suddhodana; Buddha mengizinkan Ratu Mahapajapati Gotami bersama kelima ratus putri untuk menjadi bhikkhuni; mendirikan Sangha Bhikkhuni; membabarkan Dakkhinavibanga Sutta.

Tahun keenam (583 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Mankulapabbata (Bukit Mankula), di dekat Kosambi.

Peristiwa utama: Ratu Khema menjadi bhikkhuni dan kemudian ditunjuk sebagai salah satu dari kedua siswi bhikkhuni utama bersama dengan Uppalavanna; Buddha melarang siswa-Nya mempertunjukkan mukjizat demi keuntungan pribadi dan harga diri mereka sendiri; melakukan mukjizat ganda.

Tahun ketujuh (582 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Surga Tavatimsa.

Peristiwa utama: Buddha melakukan mukjizat ganda; membabarkan Abhidhamma di Surga Tavatimsa; difitnah oleh Cincamanavika.

Tahun kedelapan (581 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Bhesakalavana (Hutan Bhesakala), di dekat Sumsumaragiri, Distrik Bhagga.

Peristiwa utama: Pangeran Bodhirajakumara mengundang Buddha ke Kokanada-istana barunya-untuk menerima dana makanan; membabarkan Punnovada Sutta; Punna mengunjungi Sunaparanta.

Tahun kesembilan (580 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Ghositarama (Wihara Ghosita), Kosambi.

Peristiwa utama: Magandiya membalas dendam; sengketa para bhikkhu di Kosambi.

Tahun kesepuluh (579 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Hutan Rakkhita, di dekat Desa Parileyyaka.

Peristiwa utama: karena terjadi sengketa yang berkepanjangan di antara para bhikkhu di Kosambi, Buddha akhirnya menyendiri di Hutan Rakkhita, di dekat Desa Parileyyaka, ditemani oleh gajah Parileyyaka. Pada penghujung kediaman musim hujan tersebut, Ananda, atas nama para warga Savatthi, mengundang Buddha untuk kembali ke Savatthi. Para bhikkhu Kosambi yang bersengketa tersebut kemudian memohon maaf kepada Buddha dan kemudian menyelesaikan sengketa meraka.

Tahun kesebelas (578 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Dakkhinagiri, desa tempat tinggal Brahmin Ekanala.

Peristiwa utama: Buddha mengalihyakinkan Brahmin Kasi Bharadvaja; menuju ke Kammasadamma di Negeri Kuru serta membabarkan Mahasatipatthana Sutta dan Mahanidana Sutta.

Tahun kedua belas (577 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Veranja.

Peristiwa utama: Buddha memenuhi undangan seorang brahmin di Veranja untuk melewatkan kediaman musim hujan di sana. Sayangnya, waktu itu terjadi bencana kelaparan di sana. Akibatnya, Buddha dan para siswa-Nya hanya memperoleh makanan mentah-yang biasanya diberikan kepada kuda-yang dipersembahkan oleh sekelompok pedagang kuda.

Tahun ketiga belas (576 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Caliyapabbata (Batu Cadas Caliya).

Peristiwa utama: setelah melewati kediaman musim hujan, Buddha menuju ke Bhaddiya untuk mengalihyakinkan sang hartawan Mendaka, istrinya Candapaduma, putranya Dhananjaya, menantunya Sumanadevi, pembantunya Punna, serta Visakha-cucu putrinya yang berumur tujuh tahun, mengalihyakinkan Sila, seorang panglima di Vesali yang sekaligus merupakan pengikut Nigantha Nataputta; membabarkan Maha Rahulovada Sutta.

Tahun keempat belas (575 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Wihara Jetavana, Savatthi.

Peristiwa utama: putra dari Buddha, Rahula, menerima penahbisan lanjut; Buddha membabarkan Cula Rahulovada Sutta, Vammika Sutta, dan Suciloma Sutta.

Tahun kelima belas (574 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Nigrodharama (Taman Nigrodha), Kapilavatthu.

Peristiwa utama: wafatnya Raja Suppabuddha, ayah-mertua Buddha.

Tahun Keenam belas (573 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Kota Alavi.

Peristiwa utama: Buddha mengalihyakinkan Yaksa Alavaka.

Tahun ketujuh belas (572 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Veluvanarama, Kalandakanivapa (suaka alam tempat memberi makan tupai hitam), di dekat Rajagaha.

Peristiwa utama: Buddha membabarkan Singalovada Sutta kepada perumah tangga muda Singalaka.

Tahun kedelapan belas-kesembilan belas (571-570 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Caliyapabhata (Batu Cadas Caliya).

Peristiwa utama: kisah putri seorang penenun; kisah Kukkutamitta, sang pemburu.

Tahun kedua puluh (569 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Veluvanarama, di dekat Rajagaha.

Peristiwa utama: Buddha menetapkan aturan-aturan Parajika; menunjuk Ananda sebagai pengiring tetap; pertemuan pertama dengan Jivaka; mengalihyakinkan Angulimala; dituduh atas pembunuhan Sundari; meluruskan pandangan salah Brahma Baka; menundukkan Nandopananda.

Tahun kedua puluh satu-keempat puluh empat ( 568-545 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Wihara Jetavana dan Wihara Pubbarama, Savatthi.

Peristiwa utama: kisah mengenai Raja Pukkusati; Buddha membabarkan Ambattha Sutta; penyerahan Wihara Pubbarama sebagai dana; wafatnya Raja Bimbisara; Bhikkhu Devadatta berusaha membunuh Buddha; menjinakkan Nalagiri; Bhikkhu Devadatta menciptakan perpecahan di dalam Samgha; meninggalnya Bhikkhu Devadatta; mengalihyakinkan Raja Ajatasattu; wafatnya Raja Pasenadi Kosala; membabarkan Sakka Panha Sutta.

Tahun keempat puluh lima (544 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Beluvagamaka, di dekat Vesali.

Peristiwa utama: Buddha mengalihyakinkan Upali, siswa utama Nigantha Nataputta; membabarkan ketujuh kondisi kesejahteraan bagi para penguasa dunia dan para bhikkhu; menyampaikan ceramah Cermin Dhamma; menerima hutan mangga dari Ambapali sebagai persembahan dana; wafatnya Sariputta dan Moggallana; membabarkan Empat Narasumber Utama (Mahapadesa); menyantap sukaramaddava; menerima petapa kelana Subhadda sebagai siswa terakhir; Buddha mencapai Mahaparinibbana.