Peringatan Hari Besar Bodhisattva Avalokitesvara
SELENGKAPNYAPerayaan tahun baru imlek 2556/2012 Asosiasi Buddhist center Indonesia vihara mahavira graha
SELENGKAPNYARitual Puja Kepada Para Buddha dan Penghormatan Kepada Para Dewa 2556/2012
SELENGKAPNYARitual Pertobatan Dengan Pembacaan Sapta Atita Buddha Ratna Ksamayati (Qi Fo Bao Chan)
SELENGKAPNYAPagelaran Kesenian dan Ramah Tamah Bersama di Tahun Baru Imlek
SELENGKAPNYA
Apakah dengan terpenuhinya semua kebutuhan materi merupakan penyelesaian terhadap penderitaan manusia secara sepenuhnya ?

Dengan keyakinan akan Buddha Dharma, kita selalu diajak untuk menumbuhkan tekad luhur dalam mengurangi kesombongan dan belajar untuk membuka diri dalam mengembangkan kasih sayang yang universal.
Kelahiran Pangeran Siddharta di taman Lumbini merupakan salah satu contoh teladan yang nyata di dalam peradaban manusia. Beliau mengorbankan kesenangan Alam Tusita untuk berjuang menemukan Jalan kebahagiaan bagi semua makhluk.
Kebahagiaan materi yang tersedia bagi Pangeran Siddharta sebagai putra mahkota tidak menggoyahkan semangat Beliau dalam mengatasi penderitaan dan rintangan batin. Dengan arifnya, Beliau menyadari bahwa permasalahan mendasar kehidupan tidak dapat diselesaikan dengan materi. Kepuasan materi memiliki batas yang sempit dengan atributif prasyaratnya. Ironisnya, kehidupan di abad 21 yang diiringi dengan kemajuan IPTEK tidak mampu ‘membaca’ situasi ini. Malah sebaliknya, masyarakat modern ini cenderung mengasumsikan bahwa tercapainya segala kebutuhan materi merupakan tujuan tertinggi. Parameter sosial yang tidak layak telah mengadopsi keberhasilan materi sebagai pedoman. Fenomena ini terus berlanjut bagaikan samsara yang tiada akhir dan mengakibatkan terbengkalainya kehidupan spiritual. Akibat yang paling kelihatan muncul pada kehidupan masyarakat sekarang ini berupa frustasi, stress, dan sebagainya.
Dengan adanya bukti dan penggambaran yang jelas tentang riwayat hidup Pangeran Siddharta dapat menginspirasikan kepada kita semua bahwa terpenuhinya kebutuhan materi bukanlah penyelesaian terhadap penderitaan yang sesungguhnya. Tanpa kebijaksanaan spiritual hal ini dapat mengakibatkan krisis kemanusiaan yang sangat dalam. Pangeran Siddharta bisa saja memberikan emas permata untuk membahagiakan rakyatnya. Namun berapa lama distribusi materi ini dapat memberi kebahagiaan dalam kehidupan manusia? Sampai kapan emas kerajaan Kapilavastu dapat bertahan sebelum akhirnya harus berperang merebut sumber daya negara lain dan terus diburu oleh kepuasan materi? Pangeran Siddharta akhirnya memilih sebuah jalan dimana Beliau dapat memberikan kebahagiaan abadi bukan saja kepada masyarakat kerajaannya, tetapi kepada semua makhluk.
Dinaungi oleh rembulan pada purnama Waisak, Beliau membuktikan potensi manusia dan sekaligus mengangkat harkat kemanusiaan dengan mencapai penerangan sempurna.
Ketiga peristiwa utama dalam kehidupan Pangeran Siddharta tidak dapat dipisahkan dengan semangat pengabdian dan pelayanan seorang Buddha sampai akhir hayat.
Pembabaran Dharma tiada lelah merupakan suri tauladan yang Beliau wariskan kepada generasi penerusnya demi azas manfaat dan terbukanya kesempatan bagi semua orang untuk memahami kebenaran yang universal, kebenaran yang tidak hanya berlaku bagi sekelompok individu ataupun bangsa.
Petani biasa membusungkan dada menyambut panen raya
Petani menengah melihat panen sebagai harapan hidup manusia
Petani yang ulung memahami ilmu padi dan membina penerusnya
Petani Dharma merendahkan hatinya, mengendalikan dirinya dan menjalarkan pelita Dharma
Sebagai bagian dari masyarakat dunia, Sakyamuni Buddha memahami bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama dalam menekuni kebenaran dengan cara yang berbeda-beda. Beliau juga mendeklarasikan bahwa setiap individu adalah calon Buddha. Untuk itu, hendaknya pintu hati umat manusia terketuk untuk selalu mengutamakan welas asih dan dialog dalam mengaktualisasikan praktik spiritualnya.
Tidak ada alasan untuk melukai sesama calon Buddha demi mengagungkan praktik spiritual pribadi atau bahkan menciptakan sebuah peperangan. Bila kita percaya bahwa tokoh spiritual yang kita ikuti jejaknya memiliki kapasitas spiritual adi-duniawi, maka kitapun harus mampu meyakini bahwa kebijaksanaan mereka telah mentransformasikan nilai kebenaran yang hakiki melalui cara-cara yang berbeda yang dapat dipahami sesuai dengan waktu, lokasi dan budaya. Kita juga harus menyadari bahwa keterbatasan panca indera manusia akan dapat semakin mengukuhkan kebenaran hakiki semua agama yang pada dasarnya bertumpu pada kasih sayang, perdamaian, dan kesejahteraan umat manusia.
Jadi Vegetarian Lebih Bahagia dan Tidak Mudah Stres
Sudahkah Anda Tersenyum kepada Anak Anda Hari Ini?
Lezatnya telur tebu Bahan : · 15 batang telor tebu / trubuk · 100 gr jagung muda, ir [ ... ]
Candi Jiwa, Peninggalan Budaya Buddhis di Indonesia