Peringatan Hari Besar Bodhisattva Avalokitesvara
SELENGKAPNYAPerayaan tahun baru imlek 2556/2012 Asosiasi Buddhist center Indonesia vihara mahavira graha
SELENGKAPNYARitual Puja Kepada Para Buddha dan Penghormatan Kepada Para Dewa 2556/2012
SELENGKAPNYARitual Pertobatan Dengan Pembacaan Sapta Atita Buddha Ratna Ksamayati (Qi Fo Bao Chan)
SELENGKAPNYAPagelaran Kesenian dan Ramah Tamah Bersama di Tahun Baru Imlek
SELENGKAPNYAPengendalian Hati dan Pikiran yang Dikembangkan Demi Keberlangsungan Dunia

Pada zaman sekarang bila kita renungkan kembali apa yang pernah kita alami di dalam kehidupan kita, akan tampak bahwa perubahan berlangsung dengan begitu cepat. Hal ini sesuai dengan apa yang pernah disabdakan oleh Sang Buddha bahwa, “Sesuatu yang tercipta adalah tidak kekal dan selalu berubah.” Inilah yang disebut dengan Anicca (Hukum Ketidakkekalan).
Akhir-akhir ini, kecanggihan teknologi meningkat dengan pesat. Namun, walaupun teknologi sudah demikian canggih, perubahannya masih kalah jauh bila dibandingkan dengan perubahan yang terjadi didalam pikiran kita. Pikiran kita sifatnya liar dan tidak terkendali. Perubahan pikiran dapat mencapai 1/1000 detik.
Dalam Dhammapada I ayat I, Sang Buddha mengatakan bahwa
“ Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.”
Demikian segala sesuatu berawal dari pikiran kita. Walaupun perkembangan sudah demikian maju, tetapi kita tetap tidak dapat menghindari adanya peperangan, politik, SARA dan bencana yang terjadi dimana-mana. Di Kutub Utara, es sudah mulai mencair, akibatnya banyak orang cemas akan adanya bahaya banjir yang mengancam. Hal ini membuat hidup manusia selalu diwarnai dengan kecemasan dan ketakutan. Namun bila kita telusuri lebih jauh, semua ini sebenarnya tidak luput dari ulah manusia sendiri. Hasil pantauan badan meteorologi dan geofisika menyatakan bahwa suhu di bumi ini semakin panas, akibat adanya efek dari rumah kaca. Hal ini masih ditambah lagi dengan penebangan pohon dimana-mana secara tidak bertanggung jawab. Sementara itu, negara-negara yang berada dibawah garis kemiskinan, semakin turun kesejahteraannya sehingga makin banyak orang yang kelaparan. Semua ini mengancam perdamaian dan keberlangsungan dunia.
Oleh karena itu, sebagai umat Buddha kita harus lebih menyadari perkembangan teknologi dewasa ini sebagai bagian perkembangan material yang harus diimbangi dengan perkembangan spiritual. Kita harus kembali kepada dasar Ajaran Sang Buddha yang dibabarkan dengan jelas, yaitu
Janganlah berbuat kejahatan
Perbanyaklah berbuat kebajikan
Sucikan hati dan pikiran
Inilah ajaran para Buddha
Semaju apapun perkembangan teknologi, hal itu tidaklah berarti apabila tidak didukung dengan perkembangan spiritual. Selama hati dan pikiran kita masih hidup dalam kemiskinan, maka keberlangsungan dunia ini pun masih dipertanyakan. Untuk mengatasi hal ini, Hyang Buddha menunjukkan jalan kepada kita untuk memperkaya dan mengembangkan batin kita dengan berbuat kebajikan.
Hati dan pikiran kita bagaikan arsitektur yang dapat merancang bangunan seperti apa pun. Apapun yang terwujud, semua itu bersumber dari pikiran. Bila hati dan pikiran kita tidak terkendali, maka perbuatan kita pun dapat menyesatkan dalam kehidupan kita. Untuk itu, kita harus mensucikan hati dan pikiran dengan berbagai cara, antara lain dengan cara menaati sila, bermeditasi, melafalkan nama Buddha atau membaca mantra. Bila kita melaksanakan hal di atas, berarti setahap demi setahap kita berusaha mengamalkan Dharma dalam kehidupan kita.
Kita harus belajar untuk menyadari bahwa kejadian apapun yang menimpa kita, semua itu tidak terlepas dari hukum alam yaitu hukum karma. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama mengembangkan ajaran Sang Buddha dengan mengendalikan hati dan pikiran. Dengan berpegang pada semangat cinta kasih yang universal, marilah kita kembangkan pengendalian hati dan pikiran demi keberlangsungan dunia.
Ajaran Sakyamuni Buddha 2500 tahun yang lampau telah mengajarkan adanya hukum perubahan. Tak terkecuali, Beliau mengatakan segala sesuatu yang berwujud diliputi oleh ketidakkekalan, dengan kata lain perubahan tengah terjadi ditengah-tengah kita, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, perubahan akan senantiasa terjadi. Kemajuan IPTEK yang membawa arus informasi, semakin dashyat menggambarkan fenomena perubahan. Kecepatan komputer kian hari semakin bertambah, dari pentium 1 ke pentium 4 dan mungkin nanti akan timbul satuan kecepatan yang lebih muktakhir.
Internet dan tele-machine semakin menghilangkan batas-batas antarnegara. Sesaat kita kagum dan terlena dengan kecanggihan ini. Tapi di suatu saat kita akan terhenyak dengan sebuah tanda tanya besar. Apakah kemajuan-kemajuan tadi hanya membawa dampak yang positif? Betul, tidak dapat dipungkiri kemajuan teknologi telah membawa kemajuan yang tidak sedikit bagi peradaban kita. Tetapi bila kita teliti lagi kemajuan IPTEK telah tidak sedikit menimbulkan bencana. Komputerisasi yang canggih telah membuat sistem navigasi pesawat menjadi mudah, tetapi dengan komputer pula orang meledakkan pesawat dan menelan korban yang tidak sedikit. Telepon telah melahirkan era baru efisiensi waktu dalam aktivitas bisnis tetapi dengan telepon pula orang melakukan teror, kriminal dan kejahatan yang terorganisasi. Internet dalam sekejap menjadi primadona ahli ilmu pengetahuan, karena telah terbukti dengan internet arus ilmu pengetahuan dan kemajuan menjadi lebih baik. Tetapi dengan internet pula remaja-remaja, angkatan muda kita yang potensial yang menjadi tulang punggung bangsa ini rusak moralnya, bisnis obat bius, exstasi, free-sex melunturkan nilai luhur.
Sesaat kita renungkan, apakah ini tujuan dari kemajuan tadi, kalau tidak, berarti kita tidak usah maju, kalau tidak usah maju, berarti secara relatif kita mengalami kemunduran. Apakah itu tujuan kita?
2500 tahun yang lampau telah lebih dahulu menjawab tantangan kita. Tercapainya penerangan agung Sakyamuni Buddha telah mendobrak pintu kegelapan batin. Ajaran Beliau bersumber pada sebuah solusi bagaimana kebijaksanaan (Prajna) dapat berperan dalam hidup kita, sehingga kita mampu beradaptasi dengan semua kemajuan IPTEK. Kemajuan IPTEK yang kita ciptakan dan gunakan, yang diarahkan pada semangat Bodhisattva yang melakukan kebaikan bagi diri sendiri dan membawa berkah bagi orang lain.
Melakukan kebaikan pada diri sendiri memberi arti kemajuan bagi diri kita dengan keseimbangan dan kedamaian memutuskan rintangan kerisauan baik dari pikiran maupun dari perbuatan. Membawa berkah bagi orang lain memberi arti semua kebaikan yang kita peroleh harus juga dapat dirasakan oleh orang lain dan pada saat yang sama melatih diri kita untuk melatih kesadaran dan perhatian kita pada sesama.
Jadi Vegetarian Lebih Bahagia dan Tidak Mudah Stres
Sudahkah Anda Tersenyum kepada Anak Anda Hari Ini?
Lezatnya telur tebu Bahan : · 15 batang telor tebu / trubuk · 100 gr jagung muda, ir [ ... ]
Candi Jiwa, Peninggalan Budaya Buddhis di Indonesia